Menjadi Jurnalis yang ‘Berbeda’

Mendengar kata ‘jurnalis’, biasanya yang akan terbayang adalah wartawan yang meliput ke daerah-daerah bencana, meliput tentang politik, atau meliput di daerah konflik. Kita sering berpikir bahwa itulah definisi pekerjaan seorang jurnalis. Padahal seorang jurnalis tidak hanya meliput mengenai hal-hal besar yang terjadi. Berita-berita atau informasi-informasi ringan yang sering kita jumpai di media massa juga salah satu bentuk karya jurnalistik.

Informasi-informasi ringan tersebut dibuat lebih menarik untuk dilihat oleh para jurnalis. Tidak hanya itu, semua informasi yang didapat tentunya disaring terlebih dahulu dan diverifikasi kebenarannya. Verifikasi informasi tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dipastikan bahwa terdapat penjelasan dari orang yang ahli atau mengetahui dengan baik informasi tersebut.

Hal tersebut yang dibahas dalam seminar “Bosan jadi Jurnalis? Jadi ‘Jurnalis’ Lain Yuk!” di Lecture Hall, Universitas Multimedia Nusantara (UMN), pada Kamis, 20 April 2017. Seminar tersebut menghadirkan pembicara dari dua media online, yaitu Rolling Stone Indonesia dan VICE Indonesia. Seminar ini merupakan salah satu rangkaian acara Commpress dari 17 hingga 21 April 2017.

P70420-134657

Seminar ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa UMN, tetapi juga ada pelajar dari SMA Tarakanita. Seminar ini berjalan seperti sebuah forum sharing. Kedua moderator, yang merupakan Ketua CommPress 2016 dan 2017, membawa jalannya diskusi dengan santai. Kedua narasumber juga menjawab pertanyaan diskusi dengan santai, tidak seperti menggurui.

Diskusi diawali dengan penjelasan mengenai  media seperti apa Rolling Stone dan VICE. Adib Hidayat, selaku Pemimpin Redaksi Rolling Stone Indonesia, menjawab bahwa Rolling Stone di Indonesia memiliki topik utama yang berbeda dengan Rolling Stone di 18 negara lain. “Sederhananya, kita media yang membahas soal popculture yg ada di Indonesia dan di dunia. Jadi tidak hanya fokus ke musik, tapi juga mencoba menangkap semua hal yang terjadi,” ujar Adib.

Berbeda dengan Rolling Stone, VICE Indonesia diibaratkan seperti tidak memiliki jenis kelamin yang jelas oleh Ardyan Erlangga, selaku Managing Editor VICE Indonesia. “VICE itu liputannya ‘palugada’, apa lu butuh gua ada. Di satu sisi ada liputan soal Pilkada DKI, enggak lama ada artikel mengenai berapa lama lu bisa pakai celana dalam side A side B,” ungkap Ardyan.  VICE Indonesia berusaha masuk ke sudut pandang pembaca mereka, yakni kaum millenials.

Millenials yang dimaksud Ardyan adalah anak muda yang merasa terlalu tua untuk membaca Kompas setiap hari tetapi tidak bisa membaca Brilio. “Kita random banget. Kita menggarap banyak isu dan  berusaha membuat teman-teman muda juga peduli. Kalian perlu mendapat isu yang lebih baik,” jelas Ardyan.

Saat ditanya mengenai bagaimana menjadi seorang jurnalis yang memiliki spesialisasi penulisan, kedua narasumber memiliki jawaban yang mirip. Adib mengatakan bahwa semua dimulai dari hobi atau passion menulis terlebih dulu. Kita harus fokus terhadap gaya penulisan kita terlebih dahulu, masalah subyek itu bisa mengikuti. “Jangan membatasi potensi diri, eksplor gaya tulisan kalian,” ucapnya.

Ardyan juga mengatakan hal yang serupa. Lebih baik untuk mencoba sebanyak mungkin tema. Menurutnya spesialisasi itu penting, tetapi untuk meningkatkan keterampilan, jurnalis perlu mencoba menulis sesuatu yang jauh dari bayangannya. ”Coba liputan yang kayaknya enggak bisa kalian lakuin deh. Justru itu yg harus kalian coba supaya bisa naik kelas jadi jurnalis,” jelasnya. Minat itu penting, tetapi untuk keterampilan menulis dan data gathering, mencoba berbagai bidang akan sangat membantu.

P70420-142026

Kedua narasumber juga ditanya mengenai pandangan mereka terhadap media sosial yang menjadi platform baru yang mempermudah masyarakat menyampaikan opininya. Kedua narasumber merasa bahwa media sosial dan media baru lainnya seharusnya bisa menjadi titik awal bagi jurnalis muda untuk mencoba menulis. Kita dapat mencoba menulis tentang hal-hal yang ada di sekeliling kita terlebih dahulu. “Habis nonton film, coba tulis pendapat kalian tentang film tersebut. Habis dengerin musik di Spotify, coba jelasin pandangan kalian tentang musik atau lagu itu,” jelas Adib.

Setelah berbincang-bincang, sesi tanya-jawab pun dibuka. Awalnya tidak banyak yang ingin mengajukan pertanyaan. Adib pun mencoba menanyakan peserta seminar mengenai blog pribadi yang dimiliki. Ternyata cukup banyak peserta seminar yang sudah memiliki blog pribadi. Konten blognya pun beragam, ada yang tentang perbedaan cara pandang, ada yang tentang politik.

Adib dan Ardyan juga sempat membuka salah satu blog milik pelajar SMA Tarakanita yang berisi tentang opini politiknya. Keduanya mengapresiasi segala bentuk tulisan para peserta seminar yang dipublikasikan di blog mereka masing-masing. Seminar ditutup dengan pemberian plakat kepada kedua narasumber dan foto bersama dengan seluruh peserta seminar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s